1. NIAT
MEMENUHI PANGGILAN ALLAH SWT,MENDATANGI RUMAH-NYA DENGAN BERUMRAH DAN KEMUDIAN
BERHAJI SECEPATNYA INSYA ALLAH, SERTA DENGAN RAHMAT ALLAH SEMATA.
قال تعالى: ﴿وَأَذِّنْ
فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ
كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ. لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِي
أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ ....﴾ -الحج: ٢٧-٢٩
“Dan
berserulah kepada Manusia Untuk Mengerjakan Haji, Niscaya Mereka Akan Datang
Kepadamu Dengan Berjalan Kaki, Dan Mengendarai Unta Yang Kurus Yang Datang Dari
Segenap Penjuru Yang Jauh.” (QS. Al-Hajj: 27-28)
2.
NIAT MENGIKUTI SUNAH NABI MUHAMMAD SAW, UMRAH KEMUDIAN HAJI INSAYA ALLAH.
قَالَ ابْنُ عُمَرَ
اعْتَمَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم قَبْلَ أَنْ يَحُجَّ. - صحيح البخاري
Sahabat
Ibnu Umar ra Berkata: “Nabi Saw telah menunaikan ibadah umroh sebelum
menunaikan ibadah haji”. (Kitab Shahih Bukhori).
عَنْ قَتَادَةَ،
سَأَلْتُ أَنَسًا رضى الله عنه كَمِ اعْتَمَرَ النَّبِيُّ صلى اللهعليه وسلم قَالَ:أَرْبَعٌ
عُمْرَةُ الْحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، حَيْثُ صَدَّهُ الْمُشْرِكُونَ، وَعُمْرَةٌ
مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، حَيْثُ صَالَحَهُمْ، وَعُمْرَةُ الْجِعْرَانَةِ
إِذْ قَسَمَ غَنِيمَةَ أُرَاهُ حُنَيْنٍ. قُلْتُ كَمْ حَجَّ قَالَ وَاحِدَةً.- رواه
البخاري.
Dari
Qotadah, “Saya Bertanya Kepada Sahabat Anas Ra,Berapa Kali Nabi Saw
Menunaikan Ibadah Umroh?” Beliau Menjawab: “empat kali umroh, 1-umroh
perjanjian Hudaibiyyah di bulan Dzul Qo’dah, saat dihadang oleh orang-orang
musyrik, 2-umroh tahun berikutnya di bulan Dzul Qo’dah, sesuai kesepakatan
sebelumnya, 3-umroh dari Ji’ronah, ketika beliau membagi-bagikan ghanimah
(harta rampasan perang). Aku menduga yang dimaksudnya adalah ghanimah perang Hunain.-
Qotadah bertanya, “Berapa kali Nabi Saw berhaji?” Anas Ra menjawab, “Satu kali, (sekaligus berumroh yang ke-4.” (
HR. Bukhori)
3. NIAT
MEMPERHATIKAN PERINGATAN ALLAH DAN RASULNYA SERTA MENYELAMATKAN DIRI DARI
HUKUMAN-NYA.
Di
haramkan dari rahmat Allah Swt, serta dihalangi dari kebaikan-kebaikan besar. Sakit,
bahkan sakit-sakitan yang untuk pengobatanya menghabiskan semua kekayaanya. Kehilangan
kekayaan bahkan sumber-sumbernya. Didatangi oleh banyak kebutuhan yang menyedot
sebagian besar kekayaanya, terutama menyelesaikan hutang-hutang yang tiada habisnya.
قَالَ رَسُولُ الله
صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم : إِنَّ الله , عَزَّ وَجَلَّ , يَقُولُ : إِنَّ عَبْدًا أَصْحَحْتُ لَهُ جِسْمَهُ ، وَأَوْسَعْتُ
عَلَيْهِ فِي الْمَعِيشَةِ تَمْضِي عَلَيْهِ خَمْسَةُ أَعْوَامٍ لاَ يَفِدُ إِلَيَّ
لَمَحْرُومٌ.
Rasulullah
Saw Bersabda: “Allah Berfirman: “Sesungguhnya seorang hamba telah Aku
sehatkan badannya, aku luaskan rezekinya, tetapi berlalu dari lima tahun dan
dia tidak menghadiri undangan-Ku (haji/umroh), maka sungguh dia orang yang
benar-benar terhalang ( dari kebaikan tak terbatas - dunia akhirat )”. (HR.
Ibnu Hibban Dan Dishahihkan Oleh Al Albani Di Dalam Kitab Silsilat Al Ahadits
Ash Shahihah, No. 1662.)
Rasulullah
Saw Bersabda: “Allah Berfirman: “sesungguhnya seorang hamba telah Aku
sehatkan badannya, dan aku lapangkan rezekinya, kemudian berlalu kondisi itu
selama empat tahun dan dia tidak menghadiri undangan-Ku (haji/umroh), maka
sungguh dia orang yang benar-benar terhalang (dari kebaikan tak terbatas)”. (HR.
At_Thobrani.)
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صلى الله عليه وسلم « مَنْ أَرَادَ الْحَجَّ فَلْيَتَعَجَّلْ فَإِنَّهُ قَدْ يَمْرَضُ
الْمَرِيضُ وَتَضِلُّ الضَّالَّةُ وَتَعْرِضُ الْحَاجَةُ.
Rasulullah
Saw Bersabda: “Bangsiapa yang telah berkeinginan haji maka hendaklah ia
segerakan, karena bisa jadi akan datang penyakit, atau hilang kekayaannya atau
ada keperluan lain (mendesak)”.(HR. Ibnu Majah,Dihasankan Oleh Al Albani).
مَنْ مَلَكَ زَادًا
وَرَاحِلَةً تُبَلِّغَهُ إِلَى بَيْتِ اللهِ وَلَمْ يَحُجَّ فَلا عَلَيْهِ أَنْ يَمُوتَ
يَهُودِيًّا أَوْ نَصْرَانِيًّا وَذَلِكَ أَنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ: ]وَِللهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ
إِلَيْهِ سَبِيلاً[
“Barangsiapa
yg memiliki bekal & kendaraan yg bisa mengantarkannya haji ke Baitullah,
tetapi tidak menunaikan haji, maka terserahlah baginya memilih mati dalam
keadaan beragama Yahudi atau Nasrani” dan demikianlah Allah telah berfirman
dalam Kitab-Nya “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah,
yaitu yg sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah…”(HR
At-Tarmidzy)
Dari
Umar bin Khottab Ra, ia berkata:
لقد هممت أن أبعث
رجالاً إلى هذه الأمصار فينظروا كل من كان له جدة ولم يحج ليضربوا عليهم الجزية، ما
هم بمسلمين، ما هم بمسلمين
“Sungguh
benar2 aku akan mengutus beberapa orang ke segenap penjuru negeri ini untuk
meneliti kepada setiap orang yg berkecukupan namun tidak ber-HAJI agar dipungut
upeti atas mereka, mereka adalah BUKAN orang ISLAM… mereka adalah BUKAN orang
ISLAM…”
4. NIAT
MENDAPATKAN HAJAT-HAJAT DAN KEMANFAATAN-KEMANFAATN TERBESAR DUNIA AKHIRAT
LANGSUNG DARI ALLAH SWT TANPAPERANTARA.
·
Hajat menjadi
faqih/ulama’dalam agama, sebagai syarat menjadi sebab kebaikan yang tidak
terbatas bagi semua orang dan alamsemesta.
·
Hajat menjadi pemikir
yang berkemampuan merampungiberbagai persoalan umat dengan rahmat Allah semata.
·
Hajat pada jiwa raga
yang sehat, bugar dan kuat untuk menolong Agama Allah dan kemanfaatan bagi
semua manusia.
·
Hajat berkeluarga serta
berketurunan yang baik seperti keluarga dan keturunan Nabi Ibrahim as juga
keluarga keturunan Imron.
·
Hajat berkelimpah harta
halal dan dermawan di jalan Allah seperti Khodijah. Abdurrahman bin Auf, Utsman
bin Affan, serta yang lainya.
·
Hajat diampunisemua
dosa,diangkatnya semua kebuntuan,serta diatasinya semua kesulitan hidup dengan
rahmat Allah semata.
·
Hajat memiliki
sumber-sumber pahala yang tidak terputus.
·
Hajat memiliki kota dan
daerah yang aman dengan keimanan, bersih dari berbagai kesyirikan , kekufuran, kemungkaran,
seperti Nabi Ibrahim as dan Nabi Mhammad saw.
هَذَا اْلبَيْتُ
دَعَامَةُ اْلاِسْلامِ، فَمَنْ خَرَجَ يَؤُمُّ هَذَا اْلبَيْتَ مِنْ حَاجٍ أَوْ مَعْتَمِرٍ،
كانَ مَضْمُوْناً عَلَى اللهِ، إِنْ قَبَضَهُ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَإِنْ رَدَّهُ،
رَدَّهُ بِأَجْرٍ وَغَنِيْمَةٍ
Jabir
bi abdillah berkata, “Rumah ini (Baitullah) adalah tiang Islam, maka barang
siapa yang berangkat menuju rumah ini, baik untuk mengerjakan haji atau umroh,
maka telah dijamin oleh Allah, jika ia meninggal akan dimasukkan-Nya ke surga,
dan jika kembali akan diberkahi dengan oleh-oleh pahala”. (HR Ibnu Jureij
dengan isnad hasan).
لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ
لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ
“Supaya
mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama
Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan
kepada mereka.” (QS.
Al-Hajj: 28)
اَلْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ
وَفْدُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، يُعْطِيْهِمْ مَا سَأَلُوْا، وَيَسْتَجِيْبُ لَهُمْ مَا
دَعَوْا، وَيُخْلِفُ عَلَيْهِمْ مَا أَنْفَقُوا الدِّرْهَمَ أَلْفَ أَلْفٍ.
“Orang-orang
yang mengerjakan haji dan umroh adalah dutanya Allah ‘Azza wa Jalla, Dia
berikan kepada mereka apapun yang menjadi permintaan mereka, Dia kabulkan
apapun doa mereka, Dia gantikan untuk mereka semua biaya, satu dirham diganti
satu juta dirham.”
(HR. Al-Bayhaqi)
0 comments:
Post a Comment