1. Manusia dicipta dengan
banyak persoalan yang mengepungnya dan membuatnya hidup dalam kesempitan,
kesesatan dan kerugian…
قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ
لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلآ
يَضِلُّ وَلآ يَشْقَىٰ )طه :١٢٣(
Allah SWT berfirman, "Turunlah
kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian
yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa
yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS.
Thoha: 123)
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ
مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ )طه
:١٢٤(
“Dan barangsiapa berpaling dari
peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan
menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS. Thoha: 124)
وَالْعَصْرِ إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلآّ الَّذِينَ
آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
(العصر : ٣-١)
“Demi Masa. Sesungguhnya
Manusia Itu Benar-Benar Dalam Kerugian,Kecuali Orang-Orang Yang Beriman Dan
Mengerjakan Amal Saleh Dan Nasehat Menasehati Supaya Mentaati Kebenaran Dan
Nasehat Menasehati Supaya Menetapi Kesabaran.” (QS.
Al-‘Ashr: 1-3)
2. Dan untuk keluar dari semua
persoalan tersebut sebagai pemenang, manusia butuh:
-
mengikuti petunjuk/agama yang menuntaskan
- dan murobbi/pendidik
yang Maha Sempurna kemampuan-Nya,
- serta membutuhkan mental tangguh tangan
di atas yang memaknai hidupnya dengan perjuangan tanpa batas untuk kemanfaatan
semua manusia
فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى
فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلآ يَضِلُّ وَلآ يَشْقَىٰ )طه :١٢٣(
“maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku,
lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan
celaka.”. (QS. Thoha: 123)
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ
يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا
حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ
عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ [٦:١٢٥]
“Barangsiapa yang Allah
menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya
untuk (memeluk agama) islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah
kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah
ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang
yang tidak beriman.” (QS. Al-Maidah: 125)
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ
فِي الدِّينِ...)) رواه
البخاري و مسلم.
“Barang siapa yang Allah
kehendaki (menjadi) kebaikan (tanpa batas), maka Allah memberikan kepadanya pemahaman
agama secara mendalam.” (HR. Bukhori-Muslim).
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ
الله عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّـهِ صَلَّى اللَّـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ لِلَّهِ عَبَّادًا اخْتَصَّهُمْ بِالنِّعَمِ لِمَنَافِعِ الْعِبَادِ،
يُقِرُّهُمْ فِيهَا مَا بَذَلُوهَا، فَإِذَا مَنَعُوهَا نَزَعَهَا مِنْهُمْ، فَحَوَّلَهَا
إِلَى غَيْرِهِمْ". أخرجه ابن أبى الدنيا فى
قضاء الحوائج (1/24 ، رقم 5) ، والطبرانى فى الأوسط (5/228 ، رقم 5162) ، وأبو
نعيم فى الحلية (6/115) ، والخطيب (9/459) ، وحسَّنه الألباني (صحيح الجامع، رقم
2164)
“Diriwayatkan dari Ibnu Umar ia
berkata, “Rasulullah saw bersabda, “ Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba
yang diberikan oleh Allah berbagai kenikmatan untuk dimanfaatkan/kepentingan
hamba-hamba yang lain. Allah akan menetapkan mereka dalam kenikmatan itu selama
mereka memberikannya kepada orang lain. Apabila mereka mencegahnya maka Allah
akan tarik darinya dan diberikan kepada orang lain”.
(HR. Thabrani)
3. Doa dan permintaan kepada murobbi
yang sebenarnya
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا
“Ya Allah Tambahkanlah aku ilmu dan berilah aku
karunia untuk dapat memahaminya.”
رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْلِيْ
أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ
“Ya Tuhanku lapangkanlah
dadaku,dan mudahkanlah untukku urusanku,dan lepaskanlah ikatan (kekakuan)
lidahku,supaya mereka mengerti perkataanku.” ( QS.
Toha Ayat : 25 – 28 )
اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا
اتِّـبَاعَه وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran
sehinggga kami dapat mengikutinya.dan tunjukkanlah kepada kami kejelekan
sehingga kami dapat menjauhinya.”
اللَّهُمَّ عَلِّمْنِي الْكِتَابَ، وَالْحِكْمَةَ،
وَفَقِّهْنِي فِي الدِّينِ
“Ya Allah, jadikanlah aku alim
tentang kitabullah dan sunnah Nabi/alhikmah, serta faqihkan diriku dalam agama
islam.”
4. Allah mentarbiyah (mendidik)
kita dengan;
Ø IMAN KEPADA ALLAH
Ø IMAN KEPADA MALAIKAT
Ø IMAN KEPADA KITAB
Ø IMAN KEPADA RASUL
Ø IMAN KEPADA HARI AKHIR
Ø
IMAN
KEPADA QODLO’ DAN QODAR
o SYAHADATAIN
o SHOLAT
o PUASA
o ZAKAT
o HAJI (UMROH)
5.
UMROH sebelum BERHAJI
ü NABI
MUHAMMAD SAW BERUMROH SEBELUM BERHAJI, BELIAU TELADAN KITA:
قَالَ ابْنُ عُمَرَ اعْتَمَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم قَبْلَ أَنْ يَحُجَّ.(صحيح البخاري)
ü Sahabat Ibnu Umar ra Berkata: “Nabi Saw telah menunaikan ibadah
umroh sebelum menunaikan ibadah haji”. (HR. Bukhori)
عَنْ قَتَادَةَ، سَأَلْتُ أَنَسًا رضى الله عنه كَمِ اعْتَمَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: أَرْبَعٌ عُمْرَةُ الْحُدَيْبِيَةِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، حَيْثُ صَدَّهُ الْمُشْرِكُونَ، وَعُمْرَةٌ مِنَ الْعَامِ الْمُقْبِلِ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، حَيْثُ صَالَحَهُمْ، وَعُمْرَةُ الْجِعْرَانَةِ إِذْ قَسَمَ غَنِيمَةَ أُرَاهُ حُنَيْنٍ. قُلْتُ كَمْ حَجَّ قَالَ وَاحِدَةً.- رواه البخاري.
ü Dari Qotadah Ra, Saya bertanya kepada sahabat Anas Ra, “Berapa kali Nabi
saw menunaikan ibadah Umroh?” Beliau menjawab: “Empat kali Umroh, 1.
Umroh Perjanjian Hudaibiyyah di bulan Dzul Qo’dah, saat dihadang oleh
orang-orang Musyrik, 2. Umroh tahun berikutnya di bulan Dzul Qo’dah, sesuai
kesepakatan sebelumnya, 3.Umroh dari Ji’ronah, ketika Beliau
membagi-bagikan ghanimah (harta rampasan perang). Aku menduga yang dimaksudnya
adalah ghanimah perang Hunain.”- Qotadah Bertanya: “Berapa kali Nabi Saw
berhaji?” Anas Ra menjawab: “Satu Kali-sekaligus berumroh yang ke 4”. (HR. Bukhori).
ü
• Sahabat Ibnu Umar
Ra pernah ditanya tentang bolehkah seseorang mengerjakan umroh padahal dia
belum haji?
• عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، أَنَّ عِكْرِمَةَ بْنَ خَالِدٍ، سَأَلَ ابْنَ عُمَرَ رضى الله عنهما عَنِ الْعُمْرَةِ، قَبْلَ الْحَجِّ فَقَالَ لاَ بَأْسَ. (صحيح البخاري)
Dari Ikrimah Ra
bertanya kepada sahabat Ibnu Umar Ra tentang seseorang menunaikan ibadah Umroh
sebelum berhaji. Beliau nenjawab: Tidak Mengapa (BOLEH).” (HR. Bukhori)
0 comments:
Post a Comment